Review Film Black Adam [2022]

copywriter
20 Jan 2023
Review Film Black Adam [2022]

Notif: dalam review film Black Adam kali ini mengandung sedikit spoiler yang mungkin akan mengganggu. Jadi, bagi kamu yang tidak suka dengan bocorannya mending skip dulu, ya.

Setelah mengumumkan perilisan The Batman [2022] di bulan Maret, Warner Bros Studio kembali mengeluarkan karakter superhero DC lainnya, yakni Black Adam. Di karenakan The Batman tidak terkonek dengan DC Extended Universe [DCEU], maka Black Adam menjadi film DCEU satu-satunya yang di keluarkan pada tahun 2022. Film satu ini juga menjadi debut untuk Black Adam serta kelompok penegak keadilan bernama Justice Society dalam DCEU.

Black Adam di sutradarai oleh Jaume Collet Serra, dia jugalah yang menggarap film Orphan [2009] dan Jungle Cruise [2021]. Bukan rahasia lagi kalau Dwayne Johnson akan berperan sebagai Black Adam. Selain dirinya, film satu ini juga di isi oleh Aldis Hodge, Pierce Brosnan, Quintessa Swindwell, Noah Centineo, dan sederet pemeran lainnya.

Sinopsis dan Review Film Black Adam

Film ini menceritakan kebangkitan seorang juara pelindung dari Khandaq bernama Teth Adam yang tertidur 5000 tahun. Khandaq adalah sebuah negeri di mana selalu di rundung sisi kelam karena hidup di bawah penjajahan hingga zaman modern.

Lalu, apakah juara bernama Teth Adam itu masih bersedia untuk melindungi negerinya seperti yang pernah dilakukan di masa silam? Atau dia sekarang hanya perduli dengan keegoisannya dan menghancurman semua hal yang menghalangi niatnya?

Di cerita komik, review film Black Adam mulanya di kenalkan menjadi musuh, atau lebih tepatnya rival Shazam. Tapi seiring waktu berjalan, Teth Adam justru di perlihatkan sebagai sosok anti-hero, meskipun masih terlibat konflik dengan Shazam atau pahlawan super DC yang lain. Dalam debutnya di semesta DC, Teth Adam pun langsung di perlihatkan sebagai anti-hero milik DCEU.

Untuk kamu yang masih kebingungan mengenai perbedaan antara superhero, anti-hero, atau villain, tampaknya kamu harus menonton film ini lantaran di dalamnya akan di jelaskan apa definisi anti-hero melalui sistem yang gampang di mengerti.

Terlebih lagi, Black Adam menunjukkan superhero [putih], villain [hitam], dan anti-hero [abu-abu] sekaligus di satu film. Para penonton akan di bikin lebih paham mengenai perbedaan di antara ketiga istilah tersebut.

Sebagai sebuah film yang mengangkat dari cerita asli komik, plot yang di perlihatkan oleh Black Adam tergolong formulaic, yakni menunjukkan pergulatan batin sosok Teth Adam sebagai anti-hero.

Tapi, yang lumayan menarik ialah Jaume Collet Serra selaku sutradara beserta penulis naskah menawarkan sedikit kejutan di cerita masa lalu Teth Adam yang sangat fresh serta sedikit berbeda ketimbang versi komik.

Action Optimal Sampai Batas PG-13

Mungkin review film Black Adam terasa cukup formulaic dalam hal alur cerita. Tapi, di sini menawarkan banyak scene yang mampu memuaskan para penonton yang mengidam-idamkan film pahlawan super yang penuh akan aksi.

Memang, Black Adam tidak sebuas film anti-hero lain seperti Deadpool. Namun, film ini justru berani mempertontonkan kebuasan yang sampai menembus rating ‘PG-13’ ataupun film bagi penonton 13 tahun lebih.

Kemudian dari segi film ‘PG-13’ tersebut, kekerasan Teth Adam terbilang lumayan berani. Ada sejumlah scene yang menunjukkan beberapa potongan tubuh korban Teth Adam, korban kena setrum sampai menjadi tengkorak olehnya, sampai Teth Adam sendiri yang tidak ragu sering melempar bahkan hingga membanting korban-korbannya.

Ada fakta yang lebih menarik, yakni produser film yang akhir-akhir ini menyatakan kalau review film Black Adam yang nyaris memperoleh rating ‘R’ atau tontonan kepada penonton berusia lebih dari 18 tahun.

Melalui 4 kali pemotongan scene brutal, akhirnya Black Adam mendapat rating ‘PG-13’. Lewat rating itu saja Black Adam sukses memperlihatkan adegan yang sangat epik, terlebih lagi kalau betul-betul jadi film dengan rating ‘R’.

Visualisasi Memanjakan Mata

Efek CGI yang selalu memanjakan mata juga jadi salah satu faktor kenapa Black Adam wajib kamu tonton. Desain kostum Black Adam juga merepresentasikan karakternya secara mendalam.

Color tone yang konsisten dengan hawa gurun pasir semenjak Khandaq ada di kawasan timur tengah. Kemudian teknik slowmow khas DC masih tetap di pakai untuk beberapa scene pertempuran. Namun, hanya berfokus terhadap pengambilan gambar spesial.

Visualisasi Black Adam secara menyeluruh tampil secara optimal ditambah sound effect yang nyaman di telinga. Selain itu, scoring terdengar lumayan intens seperti beberapa film pahlawan super lainnya. Review film Black Adam memang terlihat seperti menahan diri lantaran mulanya dibuat dengan rating ‘R’ sehingga ada banyak scene yang perlu di pangkas agar bisa berstatus rating ‘PG-13’.

Selain di dukung sinematografi dan visualisasi ala DC yang lebih bagus, Black Adam semakin mempertegas hubungannya dengan DCEU. Kemunculan Amanda Waller [Viola Davis] serta kejutan yang di tunjukkan oleh superhero favorit DC dalam mid credit scene memberi clue yang layak di nantikan.

Seharusnya film ini bisa memberikan alur cerita serta pendalaman pemeran dengan lebih optimal. Walau begitu, Black Adam menjadi pijakan yang bagus demi ekspolrasi DCEU di masa mendatang.

Para Pemeran yang Sibuk dengan Diri Sendiri

Kehadiran Justice Society di sini hanya berkesan meramaikan konflik semenjak di tambahkan ke pertengahan cerita. Hawkman sebenarnya sudah cukup lama berasosiasi dengan karakter Dr. fate, namun chemistry antara keduanya baru tersaji saat Dr. fate akan mengorbankan diri.

Sedangkan Cyclone dan Atom Smhaser hanya di tampilkan untuk memperlihatkan kekuatan serta melakukan beberapa kesalahan seperti anak magang. Selain itu, karakter Sabbac juga kurang sebagai musuh utama yang sangat mengancam, selain penampilannya yang cukup menyeramkan.

Sang sutradara sendiri seperti memahami benar bahwa Dr. Fate punya potensi sendiri kalau review film Black Adam di nilai kurang optimal. Dr. Fate sendiri tak kalah populer dari sejarah pahlawan suer yang setidaknya bisa mengimbangi kekuatan Doctor Strange dari semesta MCU. Hal ini pun terbukti dengan munculnya Pierce Brosnan yang berhasil mencuri atensi menggunakan sihir yang begitu memukau.

Justice Society Berpotensi dan Villain yang Bisa Lebih Ditonjolkan

Selain itu, Black Adam ikut menjadi film pertama untuk kelompok penegak keadilan bernama Justice Society dalam dunia DC, tidak terkecuali debut untuk beberapa pahlawan super yang bergabung dalam kelompok tersebut.

Meskipun cerita asli beberapa anggota kelompok Justice Society masih belum terkuak melalui film ini. tapi Black Adam berhasil membuka potensi baru mengenai kehidupan mendatang dari Justice Society.

Terlebih lagi, ada satu anggotanya yang tewas secara brutal, yang berpeluang untuk membuat projek film solo guna mencari siapa saja penerus pahlawan super yang mendapatkan akhir tragis tersebut.

Di antara seluruh pemain di film Black Adam, yang musuh utama, yakni Ishmael Gregor atau Sabbac, boleh di bilang tidak terlalu berkesan untuk para penonton. Bahkan konflik yang terjadi antara Teth Adam dan Justice Society pun terlihat lebih menarik ketimbang adegan pertarungannya melawan Sabbac.

Motif dendam kesumat dari nenek moyang yang membuat sosok Ishmael menjadi villain pun juga terlalu monoton bagi seorang penjahat utama.

 

Comments