Review Film Cross The Line

copywriter
11 Jan 2023
Review Film Cross The Line

Notif: Di dalam Review Film Cross The Line ini mengandung sedikit spoiler yang bisa mengganggu bagi kamu yang belum menonton. Jadi, skip saja kalau tidak ingin terkena bocoran filmnya, ya.

Yang jadi perhatian di film Cross The Line ini selain buah hasil tulisan oleh Robby Ertanto adalah di bintangi dua pemain bertalenta, seperti Chicco Kurniawan dan Shenina Cinnamon.

Selepas mendapat peran menjadi sepasang sahabat di film Penyalin Cahaya, kedua aktor ini di pertemukan di Cross The Line dengan berperan menjadi kekasih.

Dalam trailer yang di keluarkan sebelumnya, film satu ini coba untuk memberi gambaran mengenai kehidupan keras yang melingkupi dua sejoli, Chicco Kurniawan yang berperan sebagai Haris dan Shenina Cinnamon sebagai Maya.

Mencoba untuk mendekatkan cerita dengan berbagai isu yang ada di Indonesia, review film Cross The Line jadi representasi kisah banyak orang yang terjebak dan tetipu dalam kerasanya kehidupan.

Sinopsis dan Review Film Cross The Line

Haris [Chicco Kurniawan] dan Maya [Shenina Cinnamon] merupakan dua sejoli yang bekerja di kapal dengan imbalan bisa berlayar ke Singapura kemudian mengubah nasib. Tapi yang muncul justru sebaliknya, kedua kekasih ini terjebak di pekerjaan yang memilik bayaran sangat sedikit.

Maya bertemu seorang wanita yang memberikan tawaran untuk memperoleh upah lebih banyak, yakni menjadi budak seks di dalam kapal. Problem yang semakin banyak membuat pekerjaan kotor tersebut terlihat sangat menarik untuk Maya. Masalahnya akan semakin cepat selesai dan juga mimpinya sebentar lagi terwujud. Tapi apakah itu berjalan seperti mudahnya membalikkan telapak tangan?

Sementara itu, Haris yang coba untuk membantu pacarnya tersebut dengan melakukan pekerjaan yang berat sekaligus berbahaya. Tujuannya satu, yakni melihat Maya meraih mimpinya kemudian hidup bersama sambil menorehkan tinta baru. Apakah perjalanan cinta Maya dan Haris berhasil sampai ke tujuan?

Kehidupan di Pelabuhan yang Sangat Keras

Haris dan Maya merupakan kekasih yang memiliki impian besar. Agar bisa menggapai impian itu, mereka pun rela banting tulang sampai ke Singapura. Mereka yang datang dari keluarga miskin tentunya menaruh asa agar kehidupannya mampu berubah saat bekerja di luar Indonesia.

Review film Cross The Line ini di buka saat Haris dan Maya mendaftar pekerjaan. Alih-alih langsung diberangkatkan ke Singapura, keduanya malah ditipu agen penyalur Tenaga Kerja Indonesia [TKI] ilegal.

Dengan alasan untuk pelatihan dasar, Maya dan Haris di minta bekerja di dalam kapal. Maya sebagai pelayan café sekaligus cleaning service, sementara itu Haris menjadi ABK.

Kendala datang saat ibunda Maya sakit kemudian memerlukan uang dengan jumlah cukup banyak. Gaji Maya yang kecil di tambah hutangnya yang menumpuk membuat Maya langsung berpikir keras. Dia juga tak mampu berkutik apabila hanya bekerja menjadi cleaning service dan pelayan cafe.

Maya kemudian mulai berpikir untuk bekerja menjadi pekerja seks komersial agar bisa menyambung harapan serta bisa balik ke rumah mendampingi ibunya. Sementara itu Haris yang merasa memiliki tanggung jawab atas kehidupan Maya pun melakukan sejumlah cara agar cepat mendapatkan uang. Hingga dia harus bekerja sebagai pelaku penjualan manusia.

Chemistry Shenina dan Chicco yang Sangat Kental

Dua aktris dan aktor yang masih muda seperti Shenina dan Chicco sepertinya akan memiliki nafas panjang di dunia perfilman tanah air. Dalam Cross The Line ini, chemistry yang terjalin antara kedua pemain betul-betul di bangun dengan sangat bagus.

Keduanya berhasil meyakinkan para penonton kalau mereka menjadi kekasih yang hidup serba kesulitan. Akting totalitas yang di tunjukkan Chicco dan Shenina membuat jalan cerita dalam film ini terlihat lebih real.

Ini bukanlah kali pertama Chicco dan Shenina bermain di satu film. Sebelumnya di film Penyalin Cahaya, mereka pernah beradu peran. Kemudian, apa yang sudah mereka tunjukkan di film itu memang dipenuhi dengan totalitas. Bahkan Chicco berhasil menyabet piala citra sebagai pemain pria terbaik lantaran aktinya di film Penyalin Cahaya.

Lebih uniknya lagi, film Penyalin Cahaya tayang pada platform digital di pekan pertama tahun 2022 lalu. Sedangkan review film Cross The Line keluar di pekan-pekan terakkhir 2022. Chemistry yang ditontonkan kedua pemain ini di kedua film seperti membuka serta menutup tahun yang sangat bagus untuk dunia perfilman Indonesia.

Mengangkat Kisah Penting

Selain kuatnya akting Chicoco dan Shenina, film Cross The Line juga memiliki premis yang tidak main-main. Premis yang hampir belum pernah diangkat oleh beberapa film tanah air. Yakni mengenai perdagangan manusia.

Walau sebenarnya hal seperti ini tidak terlalu dijabarkan dalam cerita film. Namun keberanian yang diambil sang sutradara, Roby Ertanto, saat mengangkat human trafficking pantas mendapat pujian.

Jual beli manusia dalam review film Cross The Line mampu membuat para penonton seperti tersadar apabila perdagangan manusia dapat dijalankan dengan sangat mudah. Di lengkapi juga oleh oknum di belakangnya. Walau tidak terlalu terkulik lebih detail, namun inti cerita pada film ini setidaknya dapat menyentil banyak pihak yang ikut terlibat pada kasus jual beli semacam ini.

Film Cross The Line hanya memiliki durasi waktu 70 menit saja. Tergolong cukup singkat untuk film panjang yang ditambah dengan premis berat.

Apa Adanya

Di sisi lain, penonton akan menemukan sosok Roby Ertanto sebagai sutradara. Dia coba untuk mengisahkan cerita Maya dan Haris melalui sudut yang lebih realistis. Semuanya di tunjukkan dengan apa yang dia punya alias apa adanya.

Semua penonton di ajak melihat bagaimana gelapnya dunia pelabuhan. Dengan sistem korupsi, Roby menggambarkannya dengan tidak menambahkan adegan yang tidak perlu. Semuanya memang terlihat apa adanya.

Sebagian sudut kamera berhasil membuat kesan seperti putus asa di film ini menjadi semakin terasa. Kemudian pemilihan warna yang digunakan oleh Roby membuatnya seolah-olah lebih nelangsa untuk kedua pemain utama. Kehelisahan dan kesedihan di review film Cross The Line menjadi lebih terasa melalui tone warna yang di gunakan.

Berbanding Terbalik dengan Akting Pemeran Pendukung

Hanya saja, akting yang ditunjukkan oleh pemeran pendukung masih berbanding terbalik dengan akting pemain utama. Sebagian pendukung terlihat masih kaku ketika berperan. Memang, jatah pemain pendukung tidak terlalu kuat di jalan cerita, tapi andai saja akting mereka lebih santai, kisahnya mungkin bisa menjadi lebih greget.

Di samping itu, terdapat selipan beberapa adegan yang sebenarnya tidak terlalu penting ketika film mendekati puncak. Seperti saat Maya dan Haris di kejar pelaku perdagangan manusia, tapi masih berhenti lalu berdebat. Bahkan kerapihan yang di bangun mulai awal film berkurang sedikit pada akhir cerita.

Kesimpulan

Review Film Cross The Line akan membuka pandangan penton mengenai dunia pelabuhan yang cukup gelap. Sebaiknya film ini ditonton bersama teman-teman, jadi setelah selesai kamu dapat saling membicarakan serta berdiskusi mengenai apa saja yang baru dilihat. Lalu, apakah kamu tertarik untuk menonton film yang sarat akan kesedihan satu ini?

Comments