Review Film The Menu [2022]

copywriter
18 Jan 2023
Review Film The Menu [2022]

Notif: Dalam review film The Menu kali ini mengandung sedikit bocoran yang mungkin bisa mengganggu. Jadi, untuk kamu yang tidak suka spoiler mending skip dulu, ya.

Searchlight Pictures lagi-lagi datang dengan beragam film eksperimentalnya, mencampur emosi, namun juga membuat penonton tak akan tega untuk pergi ke toilet bioskop walaupun sebentar.

Film The Menu yang di garap Mark Mylod [Game of Throne, Seccession] muncul dengan karakteristik sineas yang sebelumnya berhasil membuat beragam karya hebat lainnya, misalnya The Grand Budapest Hotel, Black Swan, Jojo Rabbit, Birdman, dan 12 Years of a Slave.

Untuk kali ini, Mylod melakukan kerja sama dengan Taylor Joy, Ralph Fiennes, serta Nicholas Hoult. Melihat ketiga karakter tersebut, kami merasa bahwa film ini layak mendapatkan apresiasi dari para penonton.

Ralph Fiennes yang bekerja sebagai chef yang sangat menjunjung tinggi sebuah kesempurnaan. Kemudian Nicholas Hoult yang menjadi fans serta pelanggan tetap rumah makan sang chef.

Anya Taylor Joy yang ada di sana untuk menikmati dan menemani apapun yang restoran tersebut sajikan. Sepertinya, mengombinasikan ketiga karakter tersebut di sebuah pengetahuan gastronomi yang menarik menjadi ide yang luar biasa.

Sinopsis dan Review Film The Menu

Review The Menu menceritakan sebuah petualangan gastronomi glamor di dalam restoran mewah bernama “Hawthorn”. Yang mana lokasinya ada di tengah-tengah pulau. Pengalaman yang sangat mewah itu hanya dapat di rasakan oleh beberapa orang pilihan. Yakni mereka yang memiliki penghasilan besar serta mencari pengalaman berbeda ketimbang sebelumnya.

Tyler [Nicholas Hoult: X-Men: Days of Future Past], Margot [Anya Taylor Joy: The Queen’s Gambit, The New Mutants], serta Mad Max [Fury Road] yang menjadi kekasih jadi pelanggan yang datang kala itu.

Akan tetapi, yang menanti mereka pada restoran di sebuah pulau pesisir tersebut bukan pengalama yang pernah di rasakan sebelumnya. Sang chef [Ralph Fiennes: Harry Potter Saga, Schindler’s List] tidak hanya menyajikan menu dan beberapa makanan glamor, tapi kejutan yang tidak akan bisa di bayangkan sebelumnya.

Premis Brilian Sebelum Atraksi Utama

The Menu bukan film sembarangan. Kami sendiri bahkan belum merasakan bagaimana pengalaman melihat film yang cukup menegangkan. Akan tetapi tetap asyik untuk di tonton tanpa membuat orang yang melihatnya merasa tertekan.

Penonton justru akan selalu menantikan kejutan yang seperti apa lagi yang akan di siapkan berikutnya. Serta apa yang bakal terjadi pada seluruh pelanggan yang datang di pulau terpencil itu.

Sejak pertama kali menonton trailernya, kami memiliki dugaan kalau review The Menu ini dapat menjadi slasher yang punya plot twist. Yang mana bakal tersimpan sampai akhir film. Maka dari itu, awalnya kami tidak banyak menaruh harapan dalam The Menu.

Tapi, memasuki awal cerita saat semua pemain berkumpul, kami menerima kesan kalau film ini bisa menjadi cerita yang begitu keren. Di tambah lagi dengan unsur yang biasanya di munculkan dalam beberapa film berkonsep detektif.

Jadi Film Yang Unik dan Menarik

Hanya saja, The Menu bukanlah film bertemakan detektif. Perkenalan para karakter di awal film hanya gerbang menuju sesuatu yang sedang menanti mereka dengan lebih personal.

Memperkenalkan sosok Margot sebagai pacar Tyler menjadi satu dari beberapa hal menarik pada premis awal review The Menu ini. Belum lagi tamu lain yang memang bukan orang sembarangan. Para penonton akan di bawa ke pengalaman kuliner glamor yang mungkin tidak perbah dibayangkan sebelumnya.

Memasuki atraksi utama, tentunya sang chef Julian Slowik, mulai menghantarkan menu favoritnya saat itu, di tambah sedikit motifasi yang di penuhi filosofi, tapi ada pula hal mengerikan di dalamnya.

Ketegangan yang di bangun secara pelan-pelan membuat tamu spesial kala itu merasakan ada sesuatu yang aneh di sana. Tapi tetap menilai bahwa itu semua merupakan bagian atraksi yang di berikan chef Slowik.

Tapi, pertunjukan yang di sajikan tidak berhenti disitu saja. Saat ‘dosa’ semua karakter terkuak, suasana pun menjadi lebih menakutkan. Kekacauan yang muncul mampu menyadarkan tamu spesial di malam itu jika menu yang di berikan merupakan kuliner istimewa bagi mereka, yang  di berikan dengan gaya personal mengejutkan.

Ketegangan yang dibuat secara perlahan membuat tontonan chef Slowik jadi atraksi yang sangat sempurna. Akhirnya, kami begitu menikmati review film The Menu tidak hanya sebuah film, namun juga tontonan yang telah di siapkan oleh chef yang mengejar rasa kesempurnaan serta putus asa. Yang di sajikan ialah karya seni cantik yang sungguh di sayangkan berakhir tragis bagi seluruh tamu spesial di hari itu, terkecuali Margot.

Komedi Dark yang Mampu Memberikan Warna di Alur Cerita

Hanya saja, Margot dalam film ini seperti duri dalam daging serta tentu saja untuk chef Slowik yang selalu mengejar kesempurnaan terakhir.

Cuma dia yang tidak dapat menikmati seluruh pengalaman dan merasa kalau semua filosofi yang di ucapkan Slowik hanya omong kosong semata.

Disinilah peran Margot sangat krusial untuk membangun ketegangan dan alur yang sangat nyata. Anya Taylor sukses membawakan peran dengan cerdas, menawarkan kesan kalau hanya dialah yang berbeda dari orang lain.

Hubungan yang terjalin antara Margot dan Slowik jadi titik balik yang cukup kusial untuk perkembangan film ini. Slowik sudah memutuskan segala sesuatunya dengan sempurna, tapi kehadiran Margot di review film The Menu seperti membuatnya melihat diri sendiri ketika masa lalu.

Ketertarikan Slowik kepada Margot jadi salah satu plot hole dalam cerita. Tapi, kalau melihat ke belakang saat Slowik meminta Margot untuk memilih, disitulah Slowik membuka diri terhadap Margot.

Gelap Tapi Mengasyikkan

Film ini bahkan tidak memberikan kesempatan kepada penonton untuk terus menghadap ke layar bioskop. Tiap karakter yang diberikan dengan bagus serta memperlihatkan kepribadian dari tiap karakter dengan alami.

Tiap karakter menyediakan warna yang berbeda untuk alurnya serta selama mereka menikmati makanannya, karakter yang sebenarnya dari tiap pribadi mereka terkuak sampai melontarkan alasan kuat untuk mereka menerima semuanya.

Bahkan, staf yang memiliki dedikasi tinggi, terutama Elsa, ikut menambahkan bumbu menarik di dalam naskah.

The Menu membawa kami memahami bagaimana tiap pemain punya peranannya masing-masing. Perhatian mereka, perbincangan mereka, serta bagaimana mereka menikmati seluruh sajian menjadi detail penting yang mampu membuat setiap pemain dalam review film The Menu ini menjadi part penting dalam jalan cerita.

Tapi, The Menu tidak hanya menyindir semua tamu spesial. Dibaliknya, film ini malah memperlihatkan bagaimana chef yang sudah kehilangan jati dirinya sejak lama, ingin mengakhiri semuanya secara sempurna.

Seseorang yang sangat memegang teguh kesempurnaan, tapi harus selalu memberikan sajian terbaiknya terhadap mereka-mereka yang tidak akan pernah merasa pusa. Selebritas, foodie, orang kaya, kritikus, merupakan mereka-mereka yang datang kepadanya lantaran status maupun mencari kesempurnaan.

Lelucon gelap dalam situasi yang semestinya normal serta kesuraman yang muncul nyaris disepanjang cerita membuat The Menu betul-betul menjadi hidangan sempurna. Tamu spesial yang datang ke Hawthorn pada hari itu, termasuk para staf, merupakan alat untuk chef Slowik agar bisa merasakan lalu melepaskan kesempuraan itu.

 

Comments