Review Film The Pale Blue Eye

copywriter
20 Jan 2023
Review Film The Pale Blue Eye

Notif: Dalam review film The Pale Blue Eye mengandung sedikit spoiler yang mungkin mengganggu, jadi bagi kamu yang tidak suka bocorannya mending skip dulu ya.

Christian Bale menjadi wajah yang sangat menjanjikan ketika sudah terpampang dalam sebuah poster film. Kamu yang suka dengan tontonan seru, berkualitas, pasti suka dengan aktor yang satu ini, pasalnya dia mungkin dapat menyajikan probabilitas aneh dan juga sulit untuk di ungkapkan.

Hal ini pun juga berlaku di film terbarunya berjudul The Pale Blue Eye, film yang mengambil latar 1830 dan bergenre misteri pembunuhan. Belum lagi poster yang terasa dramatis serta kemunculan penulis misteri seperti Edgar Allan Poe [1809-1849] yang ada di dalamnya, jadi wajar saja kalau dia mampu membuat orang-orang semakin penasaran, bahkan film ini trending di platform streaming Netflix.

Review film The Pale Blue Eye di hadirkan dengan pembuka yang epik. Kalau di lihat dari segi konsepnya saja dia menyediakan hal yang cukup berbobot dan di penuhi oleh plot twist yang bakal mengingatkan penonton di film The Prestige [2006].

Tapi, apakah dia mampu secantik dan serapi The Prestige? Inilah hal yang akan kami bahas dalam ulasan kali ini. Jadi, simak baik-baik, ya.

Sinopsis dan Review film The Pale Blue Eye

Film ini menceritakan detektif kawakan, August Landor yang di perankan oleh Christian Bale. Landor menginvestigasi kasus pembunuhan kadet mudah dalam Akademi Militer AS di West Poin, New York.

Kadet tersebut tewas misterius serta penyebabnya belum juga di temukan. Kondisinya mengerikan, yang di mana jantung kadet di ambil dari badannya. Selain itu, tak ada jejak kaki atau tangan yang berada di dekat mayatnya.

Kemudian akademi meminta Landor guna menyelidiki kasus ini agar bisa menghindari damapk buruk kepada akademi.

Ketika tengah menyelidiki kasusnya, Landor di temani oleh asistennya berna,a Edgar Allan Poe yang di perankan oleh Harry Melling. Poe juga punya pengetahuan dan keterampilan yang cukup cerdas demi memecahkan kasus tersebut.

Landor dan Poe pun melakukan proses investigasinya. Seiring waktu berjalan, mereka mampu menemukan beberapa petunjuk dari tewasnya seorang kadet.

Cukup banyak plot twist yang di tunjukkan dalam film ini. Akhirnya, Poe sanggup menemukan pelaku atas insidenn pembunuhan ini.

Petualangan Detektif Seperti Sherlock Holmes

Review film The Pale Blue Eye di buka dengan latar petualangan seperti Sherlock Holmes, saat akademi militer tersebut di teror pembunuh sadis yang menewaskan kadet bernaa Leroy Fry.

Menariknya, Landor kemudian di dekati Poe. Poe memang bykan penyair atau penulis, dia adalah seorang kadet yang di nilai kurang terampil dan sering di jadikan guyonan oleh teman-temannya. Tapi, Poe memiliki rasa keingintahuan yang begitu besar dan juga hati bersih.

Kehadiran Edgar Allan Poe serta kepercayaan mistis tersebut seharusnya dapat menjadi senjata dalam alur kisah agar bisa menjadi gelap, lebih dalam, dan penuh akan teka-teki. Dalam seperempat perjalanan film, penonton berharap akan di suguhkan oleh Sherlock: The Abominable Bride yang menggabungkan mitos hantu, teori konspirasi yang tidak masuk akal, dan misteri pembuunuhan.

Apalagi, Fry bukanlah korban satu-satunya. Berikutnya, ada sosok Randolph Ballinger yang sekarang tidak hanya jantungnya, namun alat kelamin pria tersebut yang diambil. Kemudian potongan dari bagian tubuh lainnya lebih kasar ketimbang kasus pembunuhan Fry.

Misteri pembunuhan di review The Pale Blue Eye semakin pelik saat Ballinger tewas selepas melabrak Allan Poe yang dinilai memiliki banyak kasus. Yang di antaranya di duga merebut wanita bernama Lea Marquis, yakni anak seorang dokter West Point, sampai hilangnya Soddard, yaitu kawan seangkatan kadet atas kedua korban. Mulanya, mungkin penonton hanya memiliki satu hingga dua tersangka.

Tapi setelah filmnya berjalan cukup lama, semakin banyak pihak yang tidak dapat di percaya, tidak terkecuali Allan Poe. Masalahnya ialah, apakah benar seperti itu? Apakah kesulitan ini berhasil untuk menjadikan The Pale Blue Eye lebih renyah?

Penonton Diajak untuk Diam

Apabila ingin film bertemakan detektif lebih sukses, gunakan kedua cara berikut. Pertama, membuat filmnya jadi sangat filosofis, jadi sindiran dari problem sosial sehingga para penonton juga merasa terkonek.

Kedua, buat sebuah misteri yang kalau penonton kehilangan fokus semenit saja, maka mereka bisa saja kehilangan clue. Nah, kesenangan seperti inilah yang dapat kamu peroleh ketika membaca komik Detektif Kindaichi atau menonton serial Sherlock.

Tapi, dalam review The Pale Blue Eye ini hanya berhenti jadi tontonan yang cukup seru. Artinya, penonton dapat keluar ke toilet selama 5 menit tanpa perlu memundurkan jalan cerita. Namun masih dapat mengikuti seperti menebak-nebak siapa dalang di balik kejahatan ketika filmnya hanya menyisakan seperempat bagian.

Kemudian di sisa durasi, kamu mungkin dapat menebak jika ‘tersangka yang mati’ itu bukanlah tersangka sebenarnya. Penjahat tersebut hanya tersangka kedua yang tidak paham akan ada rencana besar dalam kasus ini.

Sebenarnya, keputusan membuat plot twist seperti ini merupakan ide cemerlang. Apalagi, plot twist di sini juga berkaitan dengan isu wanita yang masih kencangnya di bahas serta selalu jadi ketakutan masyarakat.

Namun, alih-alih mampu mengejutkan penonton dengan sempurnya serta di saat yang tepat seperti The Prestige, antiklimaks dan punya kejutan kasar. Rasanya para penonton ingin turut berempati dengan kejutan tersebut.

Tapi ada hal yang dirasa kurang, dan sebenarnya kekurangan itu sulit untuk diartikan. Mungkin alurnya sedikit datar, atau mungkin waktunya kurang tepat. Atau bisa jadi dikarenakan ada beberapa hal penting yang hanya menjadi tempelan saja serta tidak digali lebih dalam.

Allan Poe dan Sihirnya Kurang Dieksplor

Kemunculan Edgar Allan Poe yang menjadi karakter pembantu semestinya dapat menjadi celah yang bagus guna menjadikan narasi film ini semakin wah. Tapi, Poe tidak terlihat seperti seorang penyair. Perkembangan karakternya di buat stagnan serta kecerdasannya jelang film berakhir seperti mendadak muncul lantaran kecelakaan yang parah.

Sepertinya sedikit lancang melihat The Pale Blue Eye memakai sosok legendaris ini kemudian menjadikannya lelaki cupu yang pantas mendapat kepercayaan karena dia baik sekaligus caper.

Sisi balas dendam yang di munculkan dalam review film The Pale Blue Eye terasa tidak jelas dan kurang matang. Seperti, semuanya terjadi lantaran Tuhan yang ikut campur. Tapi, semestinya sindiran mengenai ‘Tuhan’ cukup muncul dalam pembicaraan tokohnya saja dan tidak dipakai menjadi formula film.

Kesimpulan

Film ini bukanlah sebuah tontonan yang buruk atau membosankan. Mungkin penonton tidak akan mematikan hp ketika mencapai setengah bagian. Tapi, kamu hanya memperoleh perjalanan detektif seru.

Di tambah dengan plot twist menyakitkan dan memberi pesan moral. Benar, pesan moral di sini adalah perbuatan tanpa simpati yang buruk bakal memunculkan beragam iblis di dunia.

Untuk kamu yang sedang mencari film asyik untuk mengisi waktu kosong, The Pale Blue Eye menjadi film yang bisa kami rekomendasikan. Tapi, tidak seperti trailer atau poster yang di hadirkan, film detektif satu ini jauh dari kesan horor atau misterius. Pastinya, ini bukanlah film yang tidak terlalu menantang bagi penggila cerita detektif kelas atas.

Comments