Review KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni

copywriter
15 Jan 2023
Review KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni

Notif: Review KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni mengandung sedikit spoiler di dalamnya. Bagi kamu yang tidak suka terkena spoiler mending skip dulu, ya.

Pasca penantian yang lumayan lama, kisah KKN di Desa Penari yang terkenal melalui sebuah thread di sosial media Twitter. Akhirnya mendapatkan adaptasi menjadi film layar lebar yang di rilis bulan Mei 2022 lalu di bioskop tanah air.

Film yang di garap oleh Awi Suryadi tersebut kemudian sukses menciptakan rekor menjadi film paling laris yang keluar di Indonesia dengan mendapatkan lebih dari 9 juta penonton. Akan tetapi, di akhir tahun 2022 lalu KKN di Desa Penari kembali datang di bioskop-bioskop kesayangan.

Benar, mulai tanggal 29 Desember 2022, seluruh bioskop di tanah air kehadiran film ini. Kemudian, sinopsis dari film KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni masih serupa dengan yang versi pada bulan Mei 2022.

Hanya saja yang membedakannya adalah, Luwih Dowo, Luwih Medeni memiliki tambahan adegan yang otomatis membuat durasi filmnya lebih lama sekitar 40 menit ketimbang versi yang original.

Produser film ini, Manoj Punjabi, mengatakan kalau mereka bahkan melakukan syuting tambahan dan melakukan proses editing dari awal lagi di versi terbaru. Dia mengklaim kalau KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni terasa film anyar. Lantar, apakah memang benar seperti itu?

Daripada kamu semakin penasaran, tidak ada salahnya langsung menyimak ulasan di bawah ini.

Sinopsis dan Review KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni

Sebagai tambahan informasi saja, arti subjudul “Luwih Dowo, Luwih Medeni” di versi extended ialah “lebih panjang, lebih menakutkan”.

Menggunakan judul ini, versi extended memberikan pengalaman menonton lebih mencekam ketimbang versi sebelumnya. Hanya saja, kenyataannya tidak seperti itu.

Memang, sejumlah scene tambahan yang di sediakan di KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni membuat jalan ceritanya di nilai lebih jelas dan tapi daripada versi sebelumnya.

Tapi, adegan yang memiliki pengaruh semacam ini hanya secuil. Selebihnya, scene tambahan hanya di gunakan untuk dapat menambahkan sisi komedi ataupun memperpanjang durasi tanpa ada pengaruh apa-apa atas konflik cerita.

Sementara itu di sisi kengerian film, review KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni tergolong sama dengan versi original yang sebelumnya di rilis di bioskop. Intinya adalah, versi yang di perpanjang tersebut memang lebih lama, tetapi tidak lebih menakutkan daripada versi sebelumnya.

Bahkan, jatah penampilan Badarawuhi yang menjadi hantu utama di versi Extended tidak jauh berbeda daripada versi awal.

Beberapa pihak merasa jika versi ini jadi versi yang justru lebih tepat dirilis pada bulan Mei 2022 yang lalu. Pasalnya, gaya penceritaan yang di sediakan tersusun jauh lebih rapi.

Tapi, dengan menjadikannya ke versi lebih panjang, sepertinya ini hanyalah strategi dari rumah produksi untuk bisa memperoleh keuntungan yang lebih besar. Karena, pengalaman nonton yang di sediakan betul-betul sama seperti di versi Mei 2022.

Backsound dan Efek Visual Lebih Terasa

Metode editing yang di mulai dari 0 untuk Luwih Dowo, Luwih Medeni boleh di bilang cukup sukses. Banyak dari kamu yang mungkin sedikit terganggu dengan efek CGI yang ada di versi original lantaran kualitasnya buruk.

Terutama saat di mana scene Mbah Buyut yang berubah menjadi anjing berwarna hitam. Tapi, di versi Luwih Dowo, Luwih Medeni, efek CGI tersebut sanggup di ubah menjadi lebih bagus sehingga terlihat semakin bagus ketimbang sebelumnya.

Selain itu, penampakan beberapa hantu dalam review KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni pun menjadi semakin real karena metode editing ini.

Selain sisi visual, metode editing ulangan tersebut membuat voice yang selalu bermunculan selama film terdengar lebih terasa. Backsound lebih baik ini ikut berperan agar bisa membuat sebagian adegan menjadi terkesan mengagetkan lantaran suara yang lebih kencang.

Disamping itu, backsound yang di dengar para penonton lebih nyata itu mungkin adalah hasil dari metode editing dari tim produksi memakai sistem Dolby Atmos.

Jadi, apabila kamu berminat untuk menyaksikan KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni, kami menyarankan supaya kamu melihatnya di bioskop saja. Pasalnya, dengan teknologi tadi kamu akan memperoleh pengalaman yang lebih baik dari segi backsound.

Post Credit Scene Hanya Untuk Bagian Promosi

Hal yang sangat berbeda di film Luwih Dowo, Luwih Medeni daripada versi sebelumnya ialah kemunculan post credit scene. Benar, kebanyakan dari kamu mungkin sudah mengetahui kalai ada post credit scene film Luwih Dowo, Luwih Medeni yang menunjukkan cuplikan dari film “Sewu Dino”.

Film terbaru dari rumah produksi MD Pictures yang menurut rencana awal akan rilis saat Lebaran 2023 mendatang serta jadi bagian universe KKN di Desa Penari.

Cuplikan dari Sewu Dino jadi satu-satunya harapan yang paling bagus dari versi lebih lama. Durasinya hanya 12 menit, cuplikan film “Sewu Dino” sukses menawarkan ketegangan yang tidak mampu terealisasi dalam waktu dua jam milik Luwih Dowo, Luwih Medeni.

Hanya saja, bagian post credit scene itu hanya menjadi akal-akalan MD Pictures untuk projek film berikutnya. Lebih mudahnya, mereka mengajak banyak orang untuk menonton sedikit cuplikan Sewu Dino dengan melihat versi extended lebih dulu yang menurut mereka akan menjadi film terbaru.

Kemudian, para penikmat review KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni akan menjadi semakin penasaran untuk melihat Sewu Dino saat hari perilisan tiba di bioskop.

Kesimpulan

Tidak heran, penampilan yang di tunjukkan oleh Adinda Thomas dan Tissa Biani terlihat yang paling optimal di versi lebih panjang. Di samping itu, kehadiran Calvin Jeremy dan Fajar Nugraha setidaknya mampu membuat filmnya terasa lebih menyenangkan. Lewat interaksi tambahan oleh semua kru yang ada di balik layar.

Dalam hal teknis, tidak ada perbedaan yang mencolok di sini. Seperti versi original, film di versi extended Luwih Dowo, Luwih Medeni tetap muncul menggunakan set desain yang sama.  Bernuansa misteri di desa yang terletak di tegah hutan. Kemudian, scoring yang lumayan berhasil untuk dapat membangun kengerian di sejumlah adegan.

Perbedaan yang sangat mencolok ialah di penerapan sinematografi, dimana versi extended banyak aerial shot yang di sajikan. Walaupun estetikanya lebih terasa, shot keren ini seperti terasa show off yang tidak memiliki substansi berarti di penggunaannya.

Lantas, apakah film KKN di Desa Penari: Luwih Dowo, Luwih Medeni ini worth it untuk di tonton ulang? Menurut kami tidak terlalu. Pasalnya dengan scene tambahan seperti itu, film satu ini memang terlihat lebih rapi dari segi cerita. Namun pengalaman nonton tak berbeda jauh daripada versi pertama.

Kamu bakal merasa seolah-olah melihat ulang film ini guna melihat cuplikan film yang akan di rilis sekitar 4 bulan mendatang.

Kalau kamu maih tertarik, Luwih Dowo, Luwih Medeni sudah dapat kamu tonton di beberapa jaringan bioskop di tanah air pada 29 Desember 2022.

Comments